
Kuil Shinto dan kuil Buddha di Jepang
Meski terlihat mirip, kuil Shinto dan kuil Buddha berasal dari tradisi agama yang berbeda. Pelajari cara mengenalinya dan berkunjung dengan hormat.
Perbedaan utama
| Bandingkan | Kuil Shinto | Kuil Buddha |
|---|---|---|
| Tradisi | Shinto | Buddhisme |
| Petunjuk pengenal | Gerbang torii; tali suci shimenawa | Gerbang sanmon; patung Buddha; pagoda |
| Doa | Biasanya: membungkuk dua kali → bertepuk tangan dua kali → berdoa → membungkuk sekali | Satukan kedua telapak tangan dan berdoalah dengan tenang. Jangan bertepuk tangan. |
| Petunjuk dari nama | Sering memakai Jinja, Jingu, atau Taisha | Sering berakhiran -ji, -dera, atau -in |
| Petugas di tempat ibadah | Pendeta Shinto | Rohaniwan Buddha |

Kuil Shinto
Tempat ibadah Shinto, tradisi agama asli Jepang. Di sini orang menghormati kami, sosok-sosok suci yang berkaitan dengan alam, tempat, dan hal lainnya. Gerbang torii merupakan salah satu cirinya.

Kuil Buddha
Tempat ibadah Buddhisme, tradisi berdasarkan ajaran Buddha. Anda mungkin melihat gerbang sanmon, patung Buddha, atau pagoda.

Ini hanya petunjuk, bukan aturan mutlak. Shinto dan Buddhisme saling memengaruhi selama berabad-abad; kedua tempat ibadah dapat berada dalam satu kompleks. Periksa nama dan papan petunjuk, bukan hanya bangunannya.
Cara berdoa
Langkah berikut menjelaskan kebiasaan umum. Adat berbeda-beda, jadi ikuti petunjuk tempat yang Anda kunjungi.
Kuil Shinto
Membungkuklah sedikit sebelum melewati gerbang torii. Bila memungkinkan, berjalanlah di salah satu sisi jalur dan beri ruang bagi orang lain.
Jika bak penyucian tersedia, bersihkan tangan dan mulut. Lihat panduan penyucian di bawah.
Jika memberikan persembahan berupa koin, letakkan perlahan dalam kotak persembahan. Jika ada lonceng yang boleh digunakan pengunjung, bunyikan dengan lembut.
Bungkukkan badan dalam-dalam dua kali. Tepukkan kedua tangan dua kali, lalu satukan telapak tangan dan berdoalah dalam hati. Akhiri dengan satu bungkukan yang dalam.
Kuil Buddha
Membungkuklah sedikit sebelum melewati gerbang kuil. Jika bak penyucian dapat digunakan, bersihkan tangan dan mulut.
Pergilah ke aula utama atau tempat ibadah yang ditentukan. Jika memberi koin, letakkan perlahan dalam kotak persembahan.
Membungkuklah, satukan kedua telapak tangan di depan dada, dan berdoalah dengan tenang. Jangan bertepuk tangan. Membungkuklah sekali lagi setelah selesai.
Pastikan pengunjung diizinkan mempersembahkan dupa atau membunyikan lonceng besar sebelum melakukannya. Doa dan tata cara ibadah berbeda-beda di setiap kuil.
Menggunakan bak penyucian
Jika tersedia gayung, pegang dengan tangan kanan untuk membilas tangan kiri. Pindahkan gayung ke tangan kiri untuk membilas tangan kanan. Pegang lagi dengan tangan kanan, tuangkan sedikit air ke telapak tangan kiri untuk berkumur, lalu bilas kembali tangan kiri. Jangan menempelkan mulut pada gayung dan jangan menelan airnya. Jika bak tidak dapat digunakan atau tata caranya berbeda, ikuti petunjuk setempat.
Tata krama di kuil Shinto dan kuil Buddha
Pelankan suara. Jangan mengganggu ibadah atau upacara.
Periksa petunjuk sebelum memotret. Beberapa area, terutama di dalam bangunan, melarang pengambilan foto. Mintalah izin sebelum memotret seseorang dari dekat.
Lepas sepatu jika diminta. Tidak perlu melepasnya di semua tempat.
Tetaplah di area pengunjung. Jangan melewati pembatas atau menyentuh patung dan benda suci tanpa izin.
Pahami perbedaan pembayaran. Saisen adalah persembahan sukarela; biaya masuk mungkin diperlukan untuk melihat taman atau bangunan.
Pertanyaan umum
Bolehkah pengunjung asing masuk?
Umumnya, pengunjung internasional boleh masuk ke area yang terbuka untuk pengunjung. Beberapa area bersifat pribadi atau memerlukan reservasi. Periksa situs resmi dan papan petunjuk setempat.
Haruskah persembahan berupa koin 5 yen?
Tidak. Tidak ada jumlah tetap untuk persembahan sukarela. Ini terpisah dari biaya masuk atau layanan yang diwajibkan.
Apakah goshuin, jimat, dan ramalan tersedia di keduanya?
Banyak kuil Shinto dan Buddha menyediakannya, tetapi tidak semuanya. Goshuin adalah cap atau catatan kaligrafi sebagai tanda kunjungan dan ibadah. Periksa jam pelayanan, biaya, dan aturan setempat.
Apakah hatsumode hanya dilakukan di kuil Shinto?
Tidak. Hatsumode, kunjungan pertama ke kuil pada tahun baru, dilakukan di keduanya.
Ungkapan bahasa Jepang yang berguna
Bolehkah saya mengambil foto?
Apakah saya harus melepas sepatu?
Bolehkah saya hanya melihat-lihat?




